Monday, April 16, 2007

Aceh Damai (1)


Mencari Kedamain untuk Manusia
Akmal MR

Manusia kerap tak bisa menahan emosinya. apbila nafsu telah meraja, itu yang akan selalu membuat manusia hilang kesadaran dan merekapun akan segera berperang demi kepuasan dan kemenagan bati. sungguh tak ada yang akan peduli dengan itu. uang adalah tahta hingga membuta akan kebinasaan moral.. Kepuasan batin tak akan pernah terpenuhi meski ribuan nyawa telah kembali pada alam tuhan......maka dari itu timbullah dendam dan... perangpun kembali membakar nafsu dan amarah manusia untuk melihat tangisan anak dan perempuan yang kehilangan lentera kehidupan. ini adalah catatan perang Aceh demi mencuri sebuah kedamaian untuk batin perempuan dan Anak-anak Aceh dalam sebuah opini.


____________________________________________________________________

Aceh Oorlog

Oleh : Akmal MR

Pada tanggal 12 Mei 2000, adalah hari dimana sejarah baru tentang perdamaian di Aceh. Sebenarnya perjanjian damai ini sudah tak asing lagi di telinga rakyat Aceh sendiri. Namun, yang menarik dari ini adalah damai yang bertajuk referendum setelah perang berkecamuk dan ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia tersayang ini. Di Bavois (Swiss) dan di Aceh, adalah tempat terpisah yang menjadi mediator penghentian pertikaian ini saat perwakilan RI dan GAM menandatangani perjajnjian damai itu.

Berita damai pun disambut hangat dengan rasa bangga disetiap kampung-kampung Aceh ini. Akan tetapi disela itu masih ada pihak-pihak yang masih saja mengeruti niat baik agar darah tumpah lagi ini. Berarti jika damai dengan perjanjian jangan dikira tak ada lagi perang atau pembantaian berlanjut. Lihat saja ulah pasukan siluman yang masih berkeliaran di jalanan dan disudut-sudut kampung yang sunyi. Bisa kita saksikan sendiri, atau sekabar dari media massa sejak DOM dicabut, pembunuhan di Aceh malah marak dan terang-terangan tak kenal ampun. Jika boleh saya mengusik sedikit saya ingin menagajak anda mengingat tentang kekejaman itu anda pasti teringat tentang banyaknya sekolah yang dibakar, kasus Teungku Bantaqiah, Simpang KKA, atau catatan-catatan yang tak pernah berakhir keadilan bagi para korban atau keluarganya.

Atas dasar ketidakpuasan itu akhirnya pihak GAM kembali menuntut pisah dari NKRI akan tetapi hal ini dianggap angin lalu oleh RI. Melirik dendam itu GAM akhirnya membrontak dan perang bergejolak lagi di tanoh seuramoe mekkah. Perang ini menjadi perang yang bisa dikatakan sangat luar biasa dalam catatan perang saudara di Indonesia. Adalah tingkah Ryamizard Ryacudu yang bertindak sebagai panglima operasi tak segan-segan mengutus puluhan ribu tentarannya untuk bersiap membasmi kelompok sparatis. Ryamizard sendiri waktu itu pernah mengrutu “di Aceh, TNI seperti perang-perangan, tapi matinya beneran”(editorial damai. 2005).

Perang sengit kembali terjadi dimana sekawanan pasukan GAM dikepung di Paya Cot Trieng, Aceh Timur. Ribuan tentara dikerahkan untuk mematiakan musuh besar TNI di Aceh yang kabarnya hanya berkisar 10 orang. Tank dan pesawat tempur juga ikut meramaikan. Setelah seminggu terus terpenjara dalam kepungan TNI akhirnya GAM mengisyaratkan mundur. Isyarat itu langsung ditindak serius oleh TNI dengan menyisir kawasan yang dikepung dengan bermaksud membersihkan dan menagkap tentara GAM, alhasil paya Cot Trieng yang menghebohkan itu ternyata kosong dan berbekas arang-arang sisa pasukan GAM masak. Seperti mengenpung orang “kemping” saja. Benar-benar usaha yang melelahkan.

Pada 9 Desember 2002 di Jenewa Swiss, Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) ditandatangani. Hal ini terjadi atas usaha Gus Dur yang menindaklanjuti ketika Megawati Soekarnoputri menghuni Buitenzorg. Saat itu ‘Cut Nyak’ bersua untuk menghentikan pertumpahan darah dan apa daya ia sudah kadung berjanji tak akan menumpahkan setetespun darah di Aceh.

Perjanjian yang untuk kesekian kalinya terjadi di Negeri orang itu disambut dengan haru oleh masyarakat Indonesia dan rakyat Aceh khususnya. Ritual agama pun dijadikan mediator perayaan. Orang-orang memenuhi setiap mesjid-mesjid, meunasah-meunasah, sekolah-sekolah dan diperkantoran hanya untuk berdoa dengan memacakan Al quran – surat Yasin. Hal ini merupakan ritual adat orang Aceh dalam mensyukuri nikmat dari Allah swt.

Banyak yang mengira suasana di Aceh tak meriah menyambut datangnya harapan baru ini. Semua itu hanya asumsi yang kini menemukan jawabannya. Lihat saja saat wakil GAM dan RI berpose bersama di depan Masjid Raya Baiturrahman. Tempat di mana Kohler meregang nyawa di ujung rencong. Jenderal Endriartono Sutarto dan Pangdam Iskandar Muda Mayjen Djali Jusuf melakukan sujud syukur bersama di Lhokseumawe dan masih banyak kalangan yang peduli damai merasa harus mensyukuri nikmat damai ini. Belum lagi anggota TNI/Polri dan GAM yang bisa duduk santai di warung kopi sembari menyembunyikan senjata mereka karena ada larangan tidak boleh mempertontonkan bedil di muka umum.

Yang patut dijadikan sebagai momen penting era perdamaian baru ini adalah damai yang perdamaiannya benar-benar dipantau dan di-manage dengan lebih rapi. Pihak ketiga dari masyarakat internasional dilibatkan di lapangan. Tapi umurnya hanya lima bulan. Kantor-kantor Joint Security Committee (JSC) dibakar di Takengon dan Tapaktuan. Satu per satu anggota JSC dibunuh. Program penarikan pasukan ke Jakarta dan penggudangan senjata oleh GAM berantakan di tengah jalan. GAM melakukan rapat-rapat terbuka, merekrut anggota baru, dan secara resmi mengakui pungutan dengan nama pajak nanggroe. Situasi makin carut marut, silang sengkarut.

Dari jakarta sendiri dikabarkan bahwa Markas Besar Cilangkap menginginkan perang. Masyarakat dikondisikan dengan ujung tombak media massa sebagai pemandu sorak-nya. Banyak media massa memuat berita tentang perang Aceh saat itu. beerita-berita Aceh yang digarap dengan kualitas yang tak kalah memprihatinkan. Dari itulah sebabnya status darurat diperpanjangan hingga tiga kali antara Mei 2003 hingga Mei 2005. Media telah berhasil memompakan rasa nasionalisme semu, bahwa mempertahankan NKRI harus sama dengan menumpahkan darah orang Aceh.

Perang terus berlanjut di Aceh, dan satu persatu rakyat sipil menjadi korban. pembantaian dan perampokan kembali marak, satu persatu sarana umum hangus dilalap api akibat ulah mereka yang tidak pernah merasa bersalah akan hal ini. dari catatan perang di Aceh yang menjadi korban lebih banyak dari sipil sendiri. dari hal itu menumbuhkan rasa dendam yang bermula mereka ingin berperang agar keadilan dapat mereka capai.

Hingga saatnya status darurat militer pun diringankan menjadi darurat sipil. Mengingat Aceh yang kian hari mulai kondusif karena banyaknya anggota GAM menyerahkan diri. Mereka yang menyerahkan diri pun kian menuai rasa was-was karena dianggap `cuak` atu penghianat komunitas. Maka mereka menjalani hari-hari didalam rumah tahanan yang tersebar di Indonesia.

26-12-2006, gelombang raya merenggut kembali banyak nyawa di aceh. Prahara tsunami pun menuai hitam ditrengah hiruk pikuk orang menagani bantuan dari dalam maupun luar negeri. kacauan kembali terjadi saat banyak mobil-mobil bantuan di jarah dan dirampok ditengah jalan menuju Banda Aceh. Ada yang bilang itu GAM akan tetapi banyk juga kalangan yang berasumsi bahwa itu hanya ulah pihak ketiga (OTK) yang ingiin membuat Aceh kembali kisruh. Tsunami tak hanya menyisa kuburan masal yang stiap tempat dihuni oleh puluhan ribu jiwa, akan tetapi tsunami juga meninggalkan bekas perih dan trauma yang menusuk jiwa bagi semua rakyat Aceh.

15 Agustus 2005 dari Helsinski hingga Indonesia masyarakat Aceh bersujud sykur atas tercapainya Mmemorandum Of Undesrtanding (MoU) antara GAM dengan RI. Dalam hal ini GAM menyerahkan semua senjatanya untuk dimusnahkan dan dari pihak RI menarik sebagian pasukan dan memulangkan semua pasukan non-organik (BKO) yang dikabarkan pasukan paling kejam dalam hal ‘menyita’ hak manusia. Damai kali ini juga meminta perhatian banyak kalangan hingga dibentuk sebuah tim pemantau asing yang diberi nama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang tugasnya menjaga betul-betul perdamaian ini dapat terlaksana untuk masyarakat Aceh.

Serasa damai betul-betul datang membawa berkah, hampir semua kalangan menemukan kenyamanan dalam segala hal. Hak-hak mereka yang dulu ‘dirampok’ penguasa seakan kini betul-betul merasa nyaman di Aceh. Sosialisasi pun mulai gencar, hampir setiap sudut desa ada penyuluhan hasil yang dicapai di Helsinski.

Syukur pada damai seakan ‘terkoyak’ saat melirik upacara peringatan satu tahun perdamain ini. Disela-sela puluhan ribu masyarakat Aceh memadati Mesjid Raya Baitulrahman dan berorasi untuk semua kalangan dapat menjaga damai ini dengan semestinya. Namun, sempat-sempatnya pemerintah Indonesia memperingati ulang tahun yang pertama ini dengan acara yang bertajuk budaya dan seni. Upacara yang dipusatkan di Ulee Lheu itu hanya dihadiri oleh Perwakilan RI ada Yusuf kala dan jajaran pemerintah provinsi NAD, dari pihak GAM sendiri diwalkili oleh Malik Mahmud, Muzakir Manaf dan jajaran dari KPA, ada ‘mas’ Peater Piet dari AMM dan jajarannya, disaana ada yang mulia Madem Arti Sari selaku mediator damai kali ini. Lengkap sudah catatan harian ‘penikmat’ damai Aceh.

Yang menyedihkan acara ini hanya dinikmati oleh kalangan pejabat saja. Toh rakyat aceh bukan pemilik damai sepenuhnya. Tak ada undangan terbuka untulk hal ini apalagi mengharap yang special. Alangkah sedihnya ketika seorang ibu kawan saya Sri Maryati yang jauh-jauh dari Aceh selatan hanya ingin melihat anaknya membawakan tarian kapal dan seudati yang dilakukan secara massal bersama ratusan penari lainnya harus menuai cerita sedih. Mereka dihadang dipintu masuk sangat jauh dari pusat kegiatan. Katanya hanya orang yang mempunyai undangan yang dipebolehkan masuk.

Apakah catatn perdamaian Aceh akan selamanya tercoreng kotor akibat ulah-ulah penguasa yang selalu ‘pintar’ membuat ulah. Jika kita tidak menjaga damai kali ini. Tak mustahil perang akan kembali. GAM kini belum resmi dibubarkan dan masih banyak sisa-sisa dendam. Jika damai ini berupa janji. Tnunggu akan ada yang mengingkari. Atau saja ada pihak lain yang rindu perang dan rakus kekuasaan hingga menjadikan rakyat kecil menjadi tumbal ritual perang perebut kekuasaan itu.

Sejarah sekali lagi akan membuktikan bahwa penguasa yang berkuasa. dalam rentang sejarah di atas, bisa jadi semua ini hanya sambungan dari sebuah cerita panjang saja. Dengan menyelipkan sisa-sisa kabar tsunami, dan mungkin saja ini adalah bab-bab akhir dari sebuah buku yang penulisnya sendiri tak pernah tahu kapan dan bagaimana mengakhirinya. Cerita yang selalu menunggu waktu menjadi beku untuk berakhir. Pun kita sendri yang tidak pernah menyadari bahwa jika kita sendiri yang tidak menjaganya, pasti ada yang akan mencoba mengingkarinya. Sekabar berita yang pernah menyatakan Aceh menjadi peta kematian bercatatan pinggir hitam dan penuh coretan merah. Damai ini akan menjadi obat penyembuh luka dendam pada korban perang Aceh. Syukur, untuk pertama kalinya, kata “merdeka” mulai dicoret dalam kamus GAM. Mungkin mengisyaratkan akhir dari segala pertikaian ini.

Mari sama-sama kita menjaga damai ini dengan baik dan benar-benar damai untuk rakyat Aceh. Bukan penguasa haus kematian!




Aceh Besar 2006



Sebuah ingatan dalam jiwa waktu itu

Senjakala Negeri Tirani
Akmal MR

ini adalah sebuah ingatan, dimana tak dapat bisa mengulang lagi. siapapun dia, dimanapun. sampai kapanpu bila ia sudah menjadi sebuah kenangan, maka dia tetaplah sebuah ingatan yang mustahil untuk terjadi seperi yang kita harapkan lagi. negri itu sangat jauh.. tak ada peta ketempatnya... itu sepenggal kalimat yang aku lonta guna mengingatkan bahwa semua bisa saja terjadi, namun untuk mengulang itu............. mustahil sama!
____________________________________________________________________


Negeri Gadis Kecil yang Misterius

Oleh : Akmal MR


Aku seperti manusia yang dililit jerami kusam dalam terik matahari hingga membuat pandanganku kabur sampai apa yang aku lihat betul-betul tak tampak lagi. Padahal aku baru saja merasa senja yang begitu indah hingga ia takluk pada malam yang menyajikan jutaan titik kedamaian, pada tengah ia beri lingkaran sebagai lentera yang siap memberi cahaya yang indah.

Namun Apa yang terjadi pada tubuhku disini? Kenapa aku tak bisa mengerakkan tubuhku. Tak bisa kekiri juga tak bisa kekanan. Akupun tak sanggup membuka mata dan berteriak lagi. Sungguh aku tak bisa. Apa yang telah membuat aku begini? Kenapa begitu banyak jerami menggulungku?

Dari kejauhan aku melihat satu titik cahaya yang sangat aneh namun cahaya itu menyajikan sebuah keindahan yang membuat jiwa tenang karenanya, ia berputar-putar dengan lembut dan sesekali bergerak ke arah kiri dan kemudian kekanan. Akupun mencoba menggapai cahaya itu, keindahannya membuat aku merasa sangat damai. Namun tiba-tiba cahaya itu berubah menjadi api yang sangat ganas dan bergerak cepat menuju arahku. Aku sangat terkejut, lalu aku berlari menjauh dari kerajaran api itu, aku sangat ketakutan ditambah lagi dengan kedua kakiku yang sangat susah aku gerakkan, rasanya begitu berat Aku terus mencoba melawan ketakutan ini walau telah hinggap dalam benak ini.

Aku terus berusaha menjauhkan diri dari pikiran yang memungkinkanku luruh akan ketakutan hinggaku rapuh dan bisa-bisa aku terjebak diantara dua dunia berbeda. Dua dunia berbeda adalah dimana saat mnusia merasa diambang tak sadar, saat itulah terjadi saling tarik hingga banyak yang berkata mereka kesurupan, kerap emakku bercerita tentang agar aku bisa sadar jika aku berada pada posisi itu. Konon katanya saat masa itu merangkul kita, disitu akan ada sebuah pertempuran antara batin dengan lahiriah kita. Aku juga tak pernah merasakan itu, tapi tatkala emakku bercerita tentang itu, bulu kudukku selalu merinding seakan apa yang emakku cerita berada tepat dibelakangku.

Aku sungguh belum mengerti apa yang terjadi padaku. Padahal api itu telah mendekatiku, namun ketika aku terus melotot kearahnya, api itu hilang dengan sendirinya. Aku merasa ada yang tak beres dengan diriku ini. Akupun memilih untuk pergi dari tempat ini. Aku terus berjalan di tempat itu. Tempat yang sangat aneh, aku tak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya. Aku seperti debu-debu jalanan yang dihempas kendaraan hingga aku melekat pada jerami tua kemudian aku dibakar lalu aku melebur menjadi abu yang hitam bersama jerami, dan akan beulang seperti itu lagi dan lagi.

Sepertinya aku sangat kecil diantara pohon-pohon yang berdiri tegap dihadapanku. Pohon itu telah menenggelamkanku dalam kegelapan malam. Aku masih tetap saja merasa kecil, aneh, dan seperti tiada lagi didunia nyata. Sekalipun umurku telah menjauh dari putik, namun baru kali ini aku melihat hal yang sedemikian rupa ini. Pepohonan yang sangat besar melingkar di hadapan, samping, dan dibelakangku. Disela-sela pohon itu aku melihat gadis kecil sedang menimba air, ia sendiri maka kuhampiri dia untuk menanyakan kejelasan tentang ditemapt mana aku sekarang ini. “hai,... apa kamu tau tempat apa ini?” aku bertanya padanya sambil membantu mengambilkan beberapa jerigen yang masih berada diatas becak yang dia dorong entah dari mana. Tak ada jawaban! “apa gadis ini bisu?” gumamku dalam hati.

“Jika mungkin dia bisu, jadi kenapa tak menoleh padaku, apa mungkin dia tidak bisa mendengar? perasaanku terus mengerutu melihat tingkah gadis itu yang tak mau memperlihatkan wajahnya padaku.

Sepertinya gadis itu cukup molek. Aku sangat ingin mengenalnya. Maka aku terus memperhatikan cara dia menimba air. Rambutnya yang sangat panjang membuat bagian punggungnya tertutup. Namun sesekali terlihat juga karena rambutnya terangkat ketika dia mencoba menimba air di sumur yng terlihat tua dan lesuh sepertinya sumur itu sangatlah dalam dan tak ada yang merawatnya.

“dek, boleh aku yang membantu mengambilkan air itu untukmu?” ucapku akrab meminta untuk membantu gadis itu. Namun dia juga tak mau membalikkan mukanya untuk melihatku. Sungguh begitu membuatku semakin tertantang untuk mencoba dengan cara lain. Namun usahaku mulai tampak menuai hasil, gadis itu memang tak melihatku tapi ia malah menyuruhku untuk membantu mengikat rambutnya yang terurai tak lagi rapi akibat angin yang tiba-tiba saja datang sejenak namun membuat rambut gadis kecil itu tak secantik tadi.

Perasaanku pun tertarik dengan apa yang ia suruh. Dengan niat membantu, aku langsung mendekati dan meminta gaya ikatan rambut seperti apa yang ia mau. Ketika aku mencoba menyentuh rambutnya, aku merasa dalam diriku ada sebuah kemenangan baru karena mampu membuat gadis itu mau mengajakku untuk membantunya walau aku sungguh tak pernah mengenalnya. Bahkan sampai aku memegang rambut dia yang akan ku ikat, dia juga tak menolehkan matanya padaku. Sungguh memang sangat begitu ajaib dan tak mungkin ada manusia seperti itu.

Ku ajak dia bicara, tapi dia tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya untukku. hingga aku menyerah dan aku hanya bercerita walau dia tak menaggapinya dengan baik, tapi sepertinya aku lega telah berbagi cerita tentang aku dikejar oleh gumpalan api yang sangat mengerikan tadi.

Sambil aku bercerita aku terus menggulung rambutnya yang hendakku kepang agar dia terlihat lebih cantik.

“tolong kau angkat rambutku, coba kau lihat apa yang ada dipunggungku, tolong, aku merasa sangat gatal” gadis itu mulai berbicara.

“yah,...maaf. aku tidak berani” jawabku dengan tegas.

“tapi ini memang amat sangat gatal, tolong aku” kembali ia mengulang pintanya itu. Aku tak tahu mesti harus bagaimana, dan akupun mencoba mengangkat baju kaos putihnya yang ukurannya sangat tidak pas bagi tubuhnya yang kecil dan langsing.

Lepas mengangkat baju dia, aku melihat ada yang merah dipunggung dia. Merah yang juga sangat aneh, semakin aku melihat kearah merah itu, semakin ia membesar dan tiba-tiba merah itu membusuk sambil mengeluarkan ratusan ulat kecil yang membuatku lari ketakutan lalu menjauh darinya. Aku begitu takut! Seraya ia menurunkan bajunya kembali, ia meoleh kebelakang dan langsung melihat kearahku. Aku tak sanggup lagi menahan nafas, aku begitu takut, aku seperti melihat monster yang sangat ganas. Gadis kecil yang ku lihat itu berubah menjadi wujudnya. Dengan muka yang penuh luka dan darah yang sangat bau, dia mendekati aku seakan-akan ingin menyatapku. Tangannya berubah menjadi lebih ganas, dengan kuku yang tajam dan panjang, bulu yang sangat mengerikan itu keluar dengan sendirinya dari tubuhnya.

Rasa takut ini semakin menjadi-jadi saat dia hampir menagkapku. Namun ketika aku berteriak dengan keras, sedikit ia menjauh. Namun sesaat kemudian dia datang lagi. Dengan wajah yang kian lama kian ganas itu dia terus mengejarku. Dan akhirnya dia mendapatkan aku. Beberapa kali aku dicekik dan digigit olehnya.

Aku kembali berlari, tapi kali ini gadis itu mendapatkanku. Aku terus berteriak namun serasa mulutku ditutup dengan bantal. Aku betul-betul tak sanggup mengeluarkan sepatahkatapun dari mulut ini. Aku juga tak tahan lagi. Aku mencoba melawan dan terus melawan, aku ingin lepas dari ini. Sepertinya aku tak bisa lagi lepas karena aku telah didalam dekap kematiannya. Aku tak menangis tapi airmataku terus mengalir. Suaraku hilang tak tahu entah apa yang telah membuatku seperti ini. Namun,.. akhinya setan yang menjelma gadis itu telah pergi. Aku terbangun dan ku lihat sekujur tubuhku basah oleh keringat yang sangat banyak. Kemudian aku sadar bahwa yang tadi aku lewati hanya sebuah mimpi.

Rasa panas menyelimutiku dan hendak membuatku percaya apa yang baru aku lewati merupakan sebuah kenyataan. Memang rasa takut itu masih membayang, namun bagiku itu hanyalah sebuah mimpi dan tetap saja itu mimpi. Yang aku pikirkan sekarang adalah mengapa aku bisa bermimpi seperti itu? Kenapa saat aku bangun leherku terasa sangat sakit, bahkan ada bekas jari seperti baru saja mencekikku dengan kuat sekali.

Apa yang salah denganku? Saat aku tidur tadi sepertinya memang ada tanda-tanya aku akan bermimpi. Tapi yang ku bayangkan bukanlah mimpi seperti itu. Aku hanya membayangkan betapa indahnya bila aku lebih dekat dengan senja, apalagi jika aku menyaksikan ia takluk oleh malam, aku berada diatas gunung. Itu yang aku harapkan menjadi mimpi dan seterusnya de javu. Jika mimpi yang telah ku lewati tadi menjadi sebuah kenyataan, apa yang akan aku lakukan? Aku betul-betul sangat ketakutan. Aku berharap mimpi itu tak jadi nyata.


Ulee Kareng, 13 April 2007